mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f IFRAME SYNC

Mengangkat sebuah Film yang berjudul Stabilitas, Di masa pandemi ini, berbagai insan perfilman


Surabaya, postbanten.net

Mengangkat sebuah Film yang berjudul Stabilitas, Di masa pandemi ini, berbagai insan perfilman harus rela tidak merilis karya mereka di bioskop. Sejak awal Maret 2020, pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan terhadap industri film secara global..

Berbeda halnya dengan kaum difabel seseorang yang tidak bisa menjalani aktivitas sebagaimana orang sehat dan normal namun memiliki keinginan untuk membuat film. Sabtu Belum lama ini

Bicara tentang film sangat mengasyikan apalagi kalau temanya jarang diangkat. Karena diera sekarang film dibuat hanya mencari keuntungan semata tanpa meninggalkan pesan moral yang mendidik.

Dalam hal ini ketua Fordiva Megawati mengatakan,”Saya berharap penyandang disabilitas bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengembangkan dirinya melalui kemandirian di berbagai bidang atau pun ilmu salah satunya di perfilman baik di belakang layar dan di dalam layar.” Paparnya.

Hari ini ketika Analisa Post datang ke Grand City Surabaya, bertemu dengan salah satu team kreatif dari rumah produksi ternama, dan mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi mengenai pembuatan film tentang kaum disabilitas beliau mengatakan,

”Meski dari kisah berbeda, film ini tetap akan memberikan warna bagaimana caranya mereka eksis di dunia hiburan seperti, dari sisi humor, tindakan berani, dan juga sisi mendidik yang akan membuat penonton dapat memilih film ini sebagai film terbaik bukan mengexplotasi mereka.” Ujarnya

“Film ini bercerita tentang semua kegiatan dari disabilitas. Dari 4 film pendek nanti akan mewakili rasa yang berbeda-beda. Ada 4 sinopsis long run karena proses yang cukup panjang yaitu :

Ada cerita anak bisu tuli yang bersekolah di sekolah umum di taksir cowok ganteng. Tapi cewek normal, tidak mau cowok ini naksir disabilitas.

Mewakili kebanggaan Indonesia yaitu kita mau mengangkat kisah nyata Atlet lempar lembing yang akhirnya menjual mendali.

Ceritanya tentang disabilitas yang yatim piatu, pas lebaran ingin pulang kampung bertemu dengan orang tuanya. Semua teman-teman sekitarnya pikir orang tuanya masih hidup. Tapi ternyata sudah meninggal. Film itu sebenarnya film omnibus atau film-film pendek yang di jadikan 1 jadi film panjang. Untuk film ini bergenre drama.” Paparnya.

Ada berbeda yang dilakukan oleh team kreatif, dimana tidak ada casting tetapi dilakukan pendekatan secara natural cuma butuh waktu lama dalam membuat film ini. Kedatangannya hari ini sebenarnya bukan untuk casting tapi riset. Untuk biaya produksi didapatkan dari CSR jadi film ini bersifat sosial.

Pesan yang akan disampaikan adalah “Kaum disabilitas sama dengan kita dan tidak boleh dibedakan. Cita-cita saya, ingin masyarakat indonesia bisa nonton gratis. Saya tidak bicara jumlah penonton. Kita butuh media untuk back up, tapi media yang memiliki komitment untuk punya waktu panjang.” Tegasnya mengakhiri percakapan. (dewi/aris/pn/Ap)

Berita Terkait

Top
.